Mas Saif Raih Medali Emas di MQKN Nasional 2025 di Sulawesi Selatan
Sengkang, Sulawesi Selatan – Kementerian Agama Republik Indonesia kembali menggelar Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional (MQKN) dan Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional 2025 yang tahun ini dipusatkan di Pondok Pesantren Assa’idiyyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk apresiasi terhadap tradisi keilmuan pesantren sekaligus memperkuat peran pesantren dalam membangun peradaban Islam yang moderat.
Acara berlangsung selama satu pekan, 1-6 Oktober 2025, dan diikuti ribuan santri dari seluruh provinsi di Indonesia, mulai jenjang Ula (Dasar), Wustha (Menengah), hingga Ulya (Tingkat Tinggi). MQK Internasional diikuti peserta dari negara sahabat, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Filipina, sebagai wujud kerja sama keilmuan antar-pesantren dunia Islam.
Beragam cabang lomba digelar, termasuk Fiqih, Tauhid, Tafsir, Hadis, Ushul Fiqh, Akhlak-Tasawuf, Tarikh Tasyri’, Balaghah, Nahwu-Sharaf, serta lomba debat ilmiah berbahasa Arab, karya tulis ilmiah, dan syarh kitab. Kegiatan ini menjadi ajang kompetisi sekaligus wahana silaturahmi ilmiah antar-santri dan pengasuh pesantren, dengan tujuan mencetak generasi ulama muda yang menguasai kitab turats sekaligus siap berperan di kancah global.
Yang menarik, salah satu peserta asal Kabupaten Banyumas, Rofiq Ahmad Saif atau Mas Saif, berhasil meraih medali emas (peringkat satu) marhalah Wustho pada cabang Majlis Nahwu. Mas Saif merupakan putra ketiga dari Pengasuh PP At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, KH. Zuhrul Anam Hisyam dan Nyai Hj. Rodliyah Ghorro’ MZ.
Mas Saif mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, pesantren besar yang didirikan KH. Maimun Zubair (Mbah Moen). Mas Saif juga merupakan cucu dari Mbah Moen, ulama kharismatik Indonesia.

Perjuangan Mas Saif untuk mencapai medali emas tidak singkat. Dia mengikuti tes CBT (Computer Based Test), kemudian lolos ke tingkat provinsi melalui babak penyisihan dan final. Di tingkat Provinsi Jawa Tengah, ia memperoleh nilai tertinggi dari 12 peserta lain di bidang Nahwu tingkat Wustho. Sebelum ke tingkat nasional, peserta kafilah Jawa Tengah mengikuti Training Center (TC) sebanyak tiga kali, di PP Amtsilati dan Hotel Candi Indah Semarang.
Di tingkat nasional, Mas Saif menorehkan prestasi gemilang setelah meraih nilai tertinggi pada babak semifinal dan final di cabang Nahwu tingkat Wustho dan mendapatkan medali emas. “It’s more than a hope, it has become reality,” tulis Mas Saif melalui akun media sosial instagram pribadinya, Senin (6/10/2025). Satu ungkapan syukur dan bahagia yang bisa berarti, Ini bukan sekadar harapan lagi, tapi sudah jadi kenyataan. Atau bisa berarti diterjemah bebas : dulu cuma mimpi, sekarang jadi nyata, atau, Yang dulu hanya angan, kini sudah jadi kenyataan indah.
Mas Saif berbagi kesan yang menginspirasi bagi santri lain. Kesan yang saya rasakan dalam ajang MQKN kali ini sungguh luar biasa. Saya sangat terpukau melihat kemampuan para santri dalam menyampaikan pendapat, terutama mereka yang berdebat menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Meskipun kesehariannya disibukkan dengan belajar kitab salaf (turots), mereka tetap mampu berargumen, menjelaskan, bahkan mengkritik dengan fasih dalam bahasa asing. Hal ini patut diapresiasi dan terus dijaga, sebab dakwah di masa depan tidak hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga harus menembus dunia internasional dan itu hanya bisa dicapai dengan penguasaan bahasa.
Santri Indonesia sebenarnya tidak kalah dari dai luar negeri; mereka hanya perlu sedikit mengasah kemampuan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Saya ingin berpesan kepada para santri agar tidak terlalu merendah atau merasa minder. Jika santri terus menundukkan diri, dakwah akan diisi oleh orang-orang yang kurang kompeten. Santri harus bangga, yakin, dan percaya diri, sebab keyakinan akan berpengaruh besar pada hasil yang dicapai.
Ingatlah sabda Allah dalam hadis qudsi: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.” Maka ubahlah prasangka buruk menjadi keyakinan positif. Katakanlah pada diri sendiri, “Saya santri yang telah dididik bertahun-tahun untuk menjelaskan kebenaran kepada masyarakat, maka saya pasti bisa.” Jangan mencari alasan untuk tidak berdakwah.
Saya sangat salut kepada para santri yang berani tampil di media sosial menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut. Keberanian dan kepercayaan diri seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh setiap santri. Sebab, untuk apa mempelajari ilmu agama jika tidak berani mengajarkannya? Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Maka, jangan sia-siakan kesempatan menjadi bagian dari umat terbaik dengan terus menebar ilmu dan kebenaran.