Syaikhuna K.H. Hisyam Zuhdi (Mbah Hisyam)
Syaikhuna K.H Hisyam Zuhdi atau yang akrab dikenal sebagai Mbah Hisyam adalah ulama kharismatik Banyumas, penerus perjuangan Pesantren Leler, serta figur sentral dalam perkembangan Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy, Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Di bawah kepemimpinan beliau, pesantren mengalami perkembangan signifikan dan memasuki era keemasan kedua dalam sejarahnya.
Pesantren Leler termasuk salah satu pesantren tertua di Banyumas yang berdiri sejak awal abad ke-20. Cikal bakalnya dirintis pada tahun 1914 oleh Kiai Zuhdi bin Abdul Manan bin Dito Wongso (cucu Mbah Dito Wongso), seorang laskar Diponegoro yang babat alas di wilayah tersebut (menantu dari Kiai Abdullah Suyuthi Bogangin), Sumpiuh. Pesantren ini mula-mula bernama Pondok Pesantren Tarbiyatun Nahwiyah, dikenal luas sebagai Pondok Leler, dengan penekanan kuat pada pengajaran ilmu alat (nahwu dan sharaf).
Kiai Zuhdi wafat pada tahun 1937 dalam usia 50 tahun. Sejak itu pesantren mengalami masa vakum selama tujuh tahun (1937–1944). Dalam suasana duka yang mendalam, Nyai Muhfilah (ibunda Mbah Hisyam) bertekad mengirim Hisyam muda untuk menuntut ilmu agar kelak mampu melanjutkan perjuangan ayahnya. Dengan penuh keprihatinan dan kemandirian, beliau menempuh perjalanan panjang dalam dunia pesantren.
Secara nasab keilmuan, jalur sanad keluarga ini sangat kuat. Kiai Zuhdi pernah belajar kepada Kiai Sanusi Kali Wedi Kebasen, mondok di Bendo Pare Kediri di bawah asuhan Kiai Khozin, belajar astronomi kepada Kiai Dahlan Jampes Kediri, serta disebut pernah nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan. Kiai Abdullah Suyuthi sendiri pernah belajar di Pesantren Langitan Tuban pada masa kepemimpinan Kiai Ahmad Sholeh (1870–1902), yang pernah tabarukan kepada Syekh Zaini Dahlan di Makkah. Dari jalur ini, genealogi keilmuan terhubung dengan tokoh-tokoh besar Nusantara seperti Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, dan Kiai As’ad Syamsul Arifin.
Menariknya, Kiai Zuhdi dan Mbah Hisyam sama-sama berguru kepada Kiai Khozin Bendo, yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan kedalaman ilmu beliau.
Pendidikan dan Guru-Guru
Dalam bidang dirayah dan ilmu alat, Mbah Hisyam menimba ilmu di berbagai pesantren besar, di antaranya:
- Pesantren Kasingan Rembang di bawah asuhan Kiai Kholil bin Harun (1937–1939).
- Pesantren Sucen Purworejo, asuhan Kiai Sonhaji.
- Pesantren Bendo Pare Kediri, asuhan Kiai Khozin.
- Pernah mengaji kepada Hasyim Asy’ari (Tebuireng).
- Mengaji di Termas kepada Kiai Hamid Dimyathi.
Guru yang paling berpengaruh dalam perjalanan intelektual beliau adalah Kiai Khozin Bendo, sedangkan figur yang paling membekas dalam kekaguman spiritualnya adalah KH Hasyim Asy’ari.
Di Kasingan, beliau mengkaji kitab Mughni al-Labib dan Ibnu Aqil. Jalur sanad keilmuan Kiai Kholil Kasingan terhubung dengan Kiai Kholil Bangkalan, Syekh Mahfuzh Termas, dan Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi di Makkah. Sebagian sanad tersebut dapat ditelusuri dalam karya Syekh Yasin al-Fadani, di antaranya al-‘Iqd al-Farîd dan Itḥâf al-Ikhwân.
Keilmuan alat yang beliau peroleh menjadikan metode pembacaan kitabnya bercorak khas utawi-iki-iku, sebagaimana tradisi Leteh Rembang dan Kempek Cirebon.
Kepemimpinan dan Transformasi Pesantren
Sepulang dari pengembaraan ilmiah, Mbah Hisyam memimpin pesantren dan melakukan transformasi kelembagaan. Nama Tarbiyatun Nahwiyah diubah menjadi Syamsul Huda, dan pada akhir 1984 ditetapkan menjadi Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy.
Di tangan beliau, pesantren berkembang pesat. Sekitar tahun 1959–1961 jumlah santri mencapai kurang lebih 450 orang. Sistem pendidikan berjalan terstruktur: sorogan ba’da magrib, madrasah ba’da isya’, Tafsir Jalalain ba’da zhuhur, Ihya Ulumuddin ba’da ashar, dan Kitab Majalis ba’da dhuha.
Metode pengajaran beliau dikenal unik dan tidak monoton. Beliau sering memeragakan langsung materi yang diajarkan. Disiplin diterapkan dengan kebebasan yang bertanggung jawab, membentuk karakter santri yang mandiri dan kuat secara intelektual maupun spiritual.
Sebagai tokoh masyarakat, Mbah Hisyam menjadi rujukan utama umat Islam Banyumas dan sekitarnya. Beliau aktif sebagai imam shalat jenazah, penghulu pernikahan, penasihat masyarakat, serta pembimbing dalam berbagai persoalan keagamaan.
Beliau tidak terlibat dalam politik praktis, namun dihormati lintas kalangan. Tokoh-tokoh politik justru datang sowan meminta nasihat. Sifat penyayang, sabar, tekun, dan ulet menjadi ciri khas kesehariannya.
Warisan dan Penerus
Mbah Hisyam wafat pada tahun 1994. Sepeninggal beliau, kepemimpinan dilanjutkan oleh putra-putra dan menantunya: KH Atho’urrahman Hisyam (alm), KH Dzakiyul Fuad, KH Zuhrul Anam (Gus Anam), serta KH Nashuha Kurdi dan KH Sya’bani Muqri (w. 2006). Mereka melanjutkan estafet perjuangan pendidikan dan dakwah di Pondok Leler.
Era kepemimpinan Mbah Hisyam dikenang sebagai masa keemasan kedua Pesantren Leler. Hampir seluruh kiai di Banyumas pernah tabarukan kepada beliau, dan banyak muridnya kemudian menjadi ulama besar di bidang pendidikan dan sosial keagamaan.
Dengan kepemimpinan yang visioner, sanad keilmuan yang kuat, serta keteladanan hidup yang sederhana dan kharismatik, Syaikhuna K.H. Hisyam Zuhdi menegaskan dirinya sebagai penjaga tradisi keilmuan pesantren Banyumas dan mata rantai penting dalam genealogi ulama Nusantara.