Artikel, Risalah At Taujieh

K.H Zuhrul Anam Hisyam dan Ibu Nyai Hj Rodliyah Ghorro Maimoen hadir ke Yogyakarta, Resmikan Ikatan Alumni Andalusia Yogyakarta

Yogyakarta, Indonesia – Himpunan Alumni Andalusia Yogyakarta mengadakan acara Temu Alumni di Pondok Pesantren Salafiyah Al Muhsin Condong catur, kediaman K.H. Nasrul Hadi pada Senin malam (03/11/2025). Kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi serta momentum penguatan ukhuwah antar alumni sekaligus peresmian wadah alumni Andalusia di Yogyakarta. Penandatanganan langsung oleh K.H Zuhrul Anam Hisyam dan Ibu Nyai Hj Rodliyah Ghorro Maimoen diiringi gema mahalul qiyam dan potong tumpeng menjadi tanda bahwa ikatan alumni Andalusia Yogyakarta sah diresmikan. 

foto Bersama pihak PP Salafiyah Almuhsin Condongcatur dan Masyayikh Andalusia

Beberapa Angkatan turut menghadiri pertemuan ini- ada yang baru beberapa tahun lulus, ada yang sudah lama menyelesaikan masa mondok. Lama mondok pun berbeda ada yang tiga tahun, empat, lima, sampai enam tahun. Sebagai sesama santri, meski tidak semuanya saling mengenal rasa satu keluarga tetap terasa kuat sejak awal acara. 

Hadrah dari santri PP Salafiyah Al-Muhsin mengawali acara, mencerminkan suasana khas pondok pesantren. Dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an nan merdu yang di bawakan salah satu alumni. Kemudian momen disusul dengan tahlil yang dipimpin oleh Gus Farid putra dari K.H Nasrul Hadi, yang membawa pada suasana keheningan, dan doa. Seolah, rangkaian tersebut membawa semua yang hadir mengenang masa di andalusia: duduk rapi, khidmat, dan merasa dekat dengan keberkahan ilmu.

Sambutan wakil alumni oleh Ifroh Yanuri Ahmad masuk kepada rangkaian acara, ia menegaskan sangat penting menjaga tali silaturahmi lintas angkatan dan selalu menciptakan hal positif dimanapun dengan membawa almamater Andalusia.

Ashar Irsyad Naim turut menyampaikan sesi pemaparan. Ia menggerakkan para alumni agar senantiasa menjaga ukhuwah, dan semangat belajar. Beberapa poin penting yang ia sampaikan dalam pemaparannya yakni, Ukhuwah Islamiyyah saling menguatkan sesama alumni dan membuat relasi yang menyebar luas kemudian Ta’alluq dan Mahabbah yang menjaga hubungan batin kepada Guru dan Andalusia. Alumni Andalusia Jogja tercatat dari 2019-sekarang (2025) memiliki 50 alumni putra dan 46 alumni putri dari beberapa Angkatan. 

Tersebar tinggal di beberapa pesantren jogja seperti Al Munawwir Komplek L, Ali Maksum Komplek H, Annur Ngrukem, Al Hadi krapyak wetan, Pondok Albarokah, Nurul Ummah, Wahid Hasyim, Almunawwir Komplek Q, Salafiyah Al Muhsin Ali Maksum Ndalem ndongkelan, PPTQ Al Hadi Komplek Al Hamra krapyak wetan, Luqmaniyyah,dan Inayatulloh, ada juga yang tinggal di masjid sebagai marbot, di asrama, kost, dan rumah keluarga. “Perjalanan alumni tidak berhenti setelah lulus pondok” jelas ashar. Diantara mereka banyak yang melanjutkan perjuangan dengan menempuh pendidikan tinggi dan mengembangkan bidang keahlian masing-masing. Para alumni Andalusia saat ini menempuh studi di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Ada yang di UIN Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Alma Ata, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Amikom Yogyakarta, Politeknik YKPN, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta, hingga Universitas Terbuka Yogyakarta. Tidak hanya itu, terdapat pula alumni yang menimba ilmu di IIQ An-Nur Ngrukem, ISQI Pandanaran, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Poltekkes Kemenkes, serta program studi S2 luar negeri. Ini menunjukkan bahwa alumni Andalusia hadir membawa identitas kesantrian dalam perjalanan akademik mereka di beragam ruang keilmuan. 

Pengasuh PP Salafiyah Al-Muhsin, K.H. Nasrul Hadi, memberikan sambutan Tuan rumah. Rasa syukur dan kegembiraan yang mendalam beliau sampaikan atas terselenggaranya pertemuan alumni Andalusia Jogja di PP Salafiyah Al-Muhsin Condong catur. Beliau tampak sangat berbahagia karena dapat menyambut para alumni, serta kehadiran K.H. Zuhrul Anam Hisyam yang berkenan singgah serta memberikan mau’idzoh di kediaman beliau pada kesempatan tersebut. Beliau mengungkapkan bahwa kedatangan K.H. Zuhrul Anam Hisyam dan Ibuk Nyai Rodliyah Ghorro Maimoen sebuah kebahagiaan tersendiri.

Mboten wonten ingkang saget kula aturaken kejawi rasa syukur. Kulo remen sanget sanget, langkung-langkung amargi rawuhipun K.H. Zuhrul Anam dan rombongan. Mugi rawuhipun ndadosaken tambah berkah barokah.”

Beliau juga menuturkan, salah satu putra beliau sendiri merupakan alumni Andalusia dan turut aktif dalam Himpunan Alumni Andalusia Yogyakarta. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan ilmu,hati antara guru dan santri. “Silaturahmi seperti ini patut disyukuri. Semoga tali ini tetap terjaga, dan nilai-nilai pesantren terus hidup dalam kehidupan panjenengan semua.” Tutur beliau

Acara sampai pada puncaknya saat K.H. Zuhrul Anam Hisyam memberikan mau’idzoh khasanah. Dengan gaya yang teduh, beliau awali dengan mengungkapan rasa bahagia dapat bertemu langsung dengan para alumni Andalusia. Beliau menegaskan bahwa melihat santrinya terus menjaga nilai-nilai yang telah diterima di pondok merupakan kebahagiaan seorang guru. Kemudian beliau menjelaskan tiga pilar utama tarbiyah yang diwariskan di Andalusia: tarbiyah imaniyah, tarbiyah khuluqiyah, dan tarbiyah ilmiyah. Menurut beliau, tiga nilai ini merupakan fondasi keberhasilan manusia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. 

Pertama, tarbiyah imaniyah- pendidikan keimanan yang menjadikan keyakinan kepada Allah sebagai poros hidup. 

Keimanan itu yang menghubungkan kita dengan Allah, yang menyadarkan bahwa dunia hanyalah sementara dan ada kehidupan abadi setelahnya,” tutur beliau. Iman menjadi dasar setiap langkah, agar seluruh aktivitas dunia diarahkan menuju ridha Allah.

Kedua, tarbiyah khuluqiyah, yaitu pendidikan akhlak. Beliau menegaskan pentingnya menjaga adab kepada Allah, malaikat, Rasulullah, orang tua, guru, sesama santri, dan masyarakat.

Nilai-nilai akhlaqul karimah yang sudah kalian dapatkan jangan sampai luntur hanya karena keluar dari pesantren,” pesan beliau dengan lembut namun penuh penekanan.

Walaupun dinamika dan godaan dunia luar begitu kejam, beliau tetap berhusnudzan bahwa nilai-nilai baik yang telah tertanam di pondok akan menjadi penuntun sampai akhir hayat.

Ketiga, tarbiyah ilmiyah, pendidikan ilmu pengetahuan. Beliau menjelaskan bahwa ilmulah yang menjadikan manusia mulia. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 31,

“ وَ عَلَّمَ آدمََا ألْ أسَمَاءَ كلَُّهَا”

Allah mengajarkan Nabi Adam nama-nama (segala sesuatu). Ayat tersebut menerangkan bahwa ilmu adalah miftahul ‘ulum, kunci dari segala peradaban. Perintah Iqra’ dalam surah Al-‘Alaq beliau tafsirkan bukan hanya perintah membaca teks, akan tetapi seluruh tanda kehidupan yang harus dibaca. Karena kata Iqra’ tidak menyebut objek, artinya bersifat umum yakni belajar apa pun yang bermanfaat bagi umat dan kehidupan. “Islam pernah menjadi pembawa obor peradaban karena semangat Iqra’. Maka santri harus terus belajar, tidak berhenti di tengah jalan,” dawuh beliau. 

Pesan beliau kepada para alumni agar sungguh-sungguh menuntut ilmu, karena ilmu yang disertai niat yang benar akan membawa keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat. Lanjut beliau menyampaikan harapan agar para alumni tidak berhenti di jenjang S1 atau S2, melainkan terus menapaki jalan ilmu hingga S3 dan seterusnya.

Cita-cita besar beliau untuk kelak setelah mendirikan Ma’had Aly ingin mendirikan Universitas Andalusia, yang tentu kontribusi moral, pemikiran, dan dukungan dari para alumni diperlukan. Kemudian, beliau menyampaikan dengan tegas bahwa dua tugas besar yang dimiliki manusia di dunia: iqamatul ‘ubudiyyah (menegakkan ibadah kepada Allah) dan ‘imaratul ardh (memakmurkan bumi). Tanpa ilmu, keduanya tidak mungkin dapat terlaksana. Maka menurut beliau, mencari ilmu adalah ibadah tertinggi karena menjadi sumber segala kebaikan dan kemajuan. 

Mau‘idzoh beliau tutup dengan doa dan pesan ruhani agar para alumni senantiasa mendoakan guru-guru mereka, menjaga hubungan batin dengan pesantren, dan saling mendoakan sesama. “Doa itu robithah ruhiyyah pengikat batin antara guru dan santri. Semoga kita semua dipertemukan kembali kelak di akhirat dalam keadaan mulia,” tutup beliau dengan nada lembut.

oleh : Inayah Khasnaputri Afifah