Madrasah Diniyyah Takmiliyyah Andalusia

Tsanawiyah dan Aliyah

Madrasah Diniyyah Takmiliyyah Tsanawiyyah dan Aliyah Andalusia merupakan lembaga pendidikan nonformal yang telah mendapatkan pengakuan (mu‘ādalah) dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Dengan status ini, santri Andalusia yang lulus dapat langsung melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar tanpa melalui tes.

Pendiri

Lembaga ini didirikan oleh KH. Zuhrul Anam Hisyam, Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia pada tahun 2013. Madrasah Diniyyah Andalusia bernaung di bawah Yayasan Al-Anwar Al-Hisyamiyyah dan berlokasi di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Leler.

Seluruh santri Andalusia otomatis menjadi santri Madrasah Diniyyah Takmiliyyah sekaligus menempuh pendidikan formal di SMP, SMA, atau MA Andalusia tanpa dipisahkan.

Madrasah Diniyyah Takmiliyyah Tsanawiyyah dan Aliyah Andalusia

Merupakan lembaga pendidikan khusus ilmu syar’i yang berada di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Madin Andalusia menerapkan kurikulum yang terstruktur dan mumpuni, dengan kitab pedoman di setiap tingkatan.

Kitab-kitab utama yang diajarkan merupakan karya para ulama besar dari mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Materi yang dipelajari meliputi ilmu gramatika bahasa Arab (Lughah ‘Arabiyyah, Nahwu, Sharaf, I‘lal, Balaghah), serta berbagai disiplin keilmuan lainnya seperti Fikih, Aqidah, Akhlak, Ushul Fikih, Hadis, Musthalahul Hadis, dan fan ilmu syar’i lainnya.

Untuk menjaga kualitas pembelajaran, Madrasah Diniyyah Andalusia menghadirkan para asatidz yang kompeten. Tidak hanya dari lingkungan Pondok At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, tetapi juga dari pesantren ternama di Nusantara, seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Al-Anwar Sarang, Darul Lughah wa Dakwah, Sidogiri, Besuk Pasuruan, serta pesantren besar lainnya.

Target Hafalan Santri Madin Andalusia

Hafal Nadhoman Jurumiyyah Jawa

Santri dibiasakan menghafal nadham karya ulama kharismatik nusantara, Syaikh Mahmud Mukhtar Cirebon. Beliau dikenal sebagai ahli syi’ir (‘arudh). Nadham ini menjadi pintu awal santri mengenal nahwu dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Hafal Jurumiyyah Matan

Setelah itu, santri melangkah ke Matan Jurumiyyah, kitab dasar ilmu nahwu. Hafalan ini penting sebagai pondasi bahasa Arab sebelum santri masuk ke tingkatan lebih tinggi.

Hafal Nadhom Imrithi

Lanjut ke Nadhom Imrithi, kitab menengah yang menjelaskan ilmu nahwu lebih rinci dan sistematis. Dengan menghafalnya, santri semakin terbiasa berpikir runtut dan memahami kaidah bahasa Arab secara mendalam

Hafal Nadhom Alfiyyah Ibnu Malik (1002 bait)

Puncaknya adalah Alfiyyah Ibnu Malik dengan total 1002 bait. Hafalan ini ditempuh bertahap selama empat tingkatan: mulai kelas 3 Tsanawi hingga kelas 3 Aliyyah, dengan target 250 bait setiap jenjang. Saat lulus, santri sudah menguasai seluruh bait Alfiyyah secara mantap.

Madrasah Diniyyah Tsanawiyyah dan Aliyah Andalusia

menyiapkan kurikulum hafalan kitab yang sistematis. Santri dibimbing bertahap mulai dari Nadhoman Jurumiyyah Jawa, Matan Jurumiyyah, Nadhom Imrithi, hingga puncaknya Alfiyyah Ibnu Malik dengan 1002 bait. Hafalan dilakukan berjenjang sejak Tsanawi hingga Aliyyah. Dengan metode ini, santri Andalusia tidak hanya hafal, tetapi juga memiliki pondasi kokoh dalam ilmu nahwu dan bekal yang kuat untuk melanjutkan ke tingkat keilmuan yang lebih tinggi.

Kurikulum Madrasah Diniyyah

Adapun fokus utama pembelajaran yang dijalankan di Madrasah Diniyyah Takmiliyyah Ulya dan Wustha antara lain:

Penguasaan Nahwu dan Shorof
Santri dilatih untuk menguasai ilmu nahwu (tata bahasa Arab) dan shorof (morfologi) secara mendalam. Tujuannya adalah memberikan pemahaman kuat tentang struktur bahasa Arab, sehingga santri mampu memahami teks-teks klasik dengan baik.

Hafalan Nadlom
Pondok Pesantren Andalusia sangat menekankan hafalan nadzom (puisi berisi kaidah gramatika). Materi hafalan meliputi Jurummiyah, Imrithi, dan Maqshud. Melalui hafalan nadzom, santri dapat memahami konsep gramatika secara lebih mudah dan mengingatnya dalam jangka panjang.

Menguasai Kitab Kuning
Santri dibimbing untuk membaca dan memahami kitab-kitab kuning (kitab klasik Islam). Kemampuan ini sangat penting untuk mendalami ilmu agama secara langsung dari sumber aslinya.

Penguasaan Bahasa Arab
Selain gramatika, santri juga dibekali keterampilan bahasa Arab lain seperti berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan. Tujuannya agar santri mampu berkomunikasi aktif dalam bahasa Arab.