Risalah At Taujieh

Syaikhuna K.H. Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam)

Murobbi Ruh wal Jasad Syaikhuna K.H. Zuhrul Anam Hisyam

Syaikhuna K.H. Zuhrul Anam Hisyam, yang akrab disapa Gus Anam atau Abah Anam, adalah ulama, mursyid, dan pengasuh pesantren yang dikenal luas karena keteguhan ilmu, kedalaman spiritualitas, serta komitmennya dalam membina generasi santri.

Beliau lahir di Leler, Banyumas, pada Sabtu Pahing, 9 Juli 1966 M, bertepatan dengan 20 Rabiul Awwal 1386 H. Adapun tanggal 15 April 1966 yang tercatat dalam administrasi kependudukan merupakan data administratif. Beliau adalah putra kesepuluh dari pasangan ulama kharismatik, K.H. Hisyam Zuhdi dan Ibu Nyai Hafsoh Hisyam. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat dengan tradisi ilmu dan adab di bawah asuhan langsung ayahandanya.

Pendidikan dan Pengembaraan Ilmu

Gus Anam menempuh pendidikan formal di Kecamatan Sampang, menyelesaikan jenjang SD hingga SMP. Di saat yang sama, beliau mendalami ilmu-ilmu agama di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy hingga tahun 1982.

Perjalanan intelektualnya berlanjut dengan berguru kepada sejumlah ulama besar Nusantara. Di antaranya di Pondok Pesantren Al-Balagh, Bangilan, Tuban, di bawah asuhan As-Syaikh Ahmad Misbah; kemudian kepada As-Syaikh Mahmud bin Mukhtar di Cirebon; serta kepada As-Syaikh Dimyati bin Muhammad Amin di Banten. Puncak pengembaraan ilmiahnya di Indonesia terjadi ketika beliau berguru kepada Syaikhuna K.H Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang (1985–1989).

Pada tahun 1992, atas ajakan kakaknya, K.H. ‘Athour Rohman Hisyam, beliau berangkat ke Makkah dan bergabung di Ribath Al-Hanafiyah. Di Tanah Suci, beliau berguru kepada sejumlah ulama internasional, di antaranya:

  • As-Syaikh Prof. Dr. Ahmad Muhammad Nur Saif Hilal (Dubai)
  • As-Syaikh As-Sayyid Prof. Dr. Muhammad ‘Alawi Al-Maliki (Arab Saudi)
  • As-Syaikh Jabir Jubron (Arab Saudi)
  • As-Syaikh Ismail Zain Al-Yamani (Yaman)

Pengembaraan ini membentuk keluasan wawasan, kedalaman manhaj, serta kematangan spiritual beliau.

Kepemimpinan Pesantren dan Pengembangan Lembaga

Setelah wafatnya K.H. Hisyam Zuhdi pada tahun 1994, estafet kepemimpinan Pondok Leler dilanjutkan oleh K.H. Atho’urrahman (alm), K.H. Dzakiyul Fuad, dan K.H. Zuhrul Anam Hisyam, dengan dukungan K.H. Nashuha Kurdi serta Ibu Nyai Tsumanah Hisyam.

Pada tahun 1997, Gus Anam kembali ke Banyumas dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk mengembangkan pesantren yang dirintis ayahandanya. Pesantren yang bermula dari Madrasah Tarbiyatun Nahwiyah (1914) berkembang menjadi Pesantren At-Taujieh Al-Islamy dan mengalami kemajuan signifikan.

Pada tahun 2013, atas ijazah dari K.H. Maimoen Zubair, beliau mendirikan lembaga pendidikan berbasis boarding school bernama Andalusia di bawah naungan Yayasan Al-Anwar Al-Hisyamiyah. Santri diwajibkan menempuh pendidikan formal dan kepesantrenan secara terpadu.

Di bawah kepemimpinan beliau bersama Bapak H. Sunarto Arif selaku Ketua Yayasan Al-Anwar Al-Hisyamiyah, berdirilah berbagai lembaga pendidikan:

  • Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia (2011)
  • SMP Islam Andalusia Kebasen (2013)
  • SMA Islam Andalusia Kebasen (2015)
  • SMP Islam Andalusia 2 Kebasen (2018)
  • Madin Takmiliyah Wustho Andalusia (2013)
  • Madin Takmiliyah Aliyah Andalusia (2018)
  • BLKK Andalusia (2019)
  • Ma’had Aly Andalusia (2020)
  • MA Andalusia (2022)
  • Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Wustho (2024)
  • Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya (2024)

Dakwah, Thariqah, dan Pembinaan Ruhani

Selain sebagai pengasuh pesantren, Gus Anam adalah aktivis dakwah yang aktif mengisi majelis selapanan (ta’lim wa ta’allum) di Banyumas, Cilacap, Kebumen, dan sekitarnya.

Beliau merupakan mursyid Thariqah Naqsyabandiyah, ijazah langsung dari K.H. Maimoen Zubair. Jamaah thariqah beliau telah mencapai ribuan orang. Banyak masyarakat menyatakan bai’at kepada beliau, menunjukkan kepercayaan dan kecintaan umat terhadap bimbingannya.

Spirit sufisme menjadi ciri kuat kepemimpinan beliau. Wirid ba’da Subuh hingga Isyraq bersama santri adalah rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan. Prinsip shuhbah ash-shalihin (membersamai orang saleh) menjadi fondasi pembinaan ruhani yang beliau tanamkan.

Beliau sering dawuh kepada para santri:

إذا أردت العلم يا بني فامكث هنا وكن معي سويّا
Jika engkau menghendaki ilmu wahai anakku,
Tinggallah di sini bersama denganku.

في أندلسيا ولا تبال بكل همة وخذ مقالي
Di Andalusia, jangan pedulikan apa pun,
Bersungguh-sungguhlah dan ambillah ucapanku.

تعد بعلم وبحال الصالحين وسر أهل الله مع فتح مبين
Engkau akan kembali membawa ilmu dan akhlak orang saleh,
Serta rahasia para wali Allah dengan hati yang terbuka.

Keluarga

Beliau didampingi oleh Ibu Nyai Rodliyah Ghorro’, putri dari K.H. Maimoen Zubair. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai tiga anak:
Gus Roudlun Nadir, Ning Zahro Mudliah, dan Gus Rofiq Ahmad Saif.

Penutup

Syaikhuna K.H. Zuhrul Anam Hisyam adalah figur ulama yang memadukan ketegasan ilmu, kedalaman tasawuf, dan keteladanan akhlak. Kepemimpinannya tidak hanya membangun institusi pendidikan, tetapi juga membentuk ruh dan karakter santri.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga beliau, keluarga, serta seluruh santrinya; menganugerahkan kesehatan dan kekuatan dalam membimbing umat; serta melimpahkan keberkahan ilmu bagi kita semua sebagai santri beliau, hingga kelak dapat berkumpul bersama di bawah panji Rasulullah SAW.